Google+ Followers

Friday, February 26, 2016

KUTUKAN "CICEM MURONG"





Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Bagi masyarakat Aceh, mungkin tidak asing dengan kalimat “Bek drop cicem murong, iseurapa inteuk”. Iya, ini adalah sebuah kalimat yang menyerukan untuk tidak menangkap atau mengganggu “cicem murong” karena bisa dikutuk oleh binatang tersebut. Secara harfiah, “cicem murong” adalah burung kutilang yang ukurannya kecil dengan paruh nan runcing panjang dan warnanya yang menarik seperti campuran merah dan hijau. Namun umumnya ditemukan dengan warna campuran hitam dan kuning. Walau pun warnanya yang menarik, tidak serta merta membuat masyarakat Aceh menjadikan burung tersebut sebagai burung hias peliharaan. Hal ini dikarenakan sudah melekatnya pikiran masyarakat bahwa dengan menangkap burung ini maka kita akan dikutuk dengan dirontokkan rambut. Secara rasional, hal tersebut memang tidak mungkin, mengingat mana ada burung yang bisa mengutuk manusia, kecuali anak kecil yang percaya hal tersebut. Bahkan kita sekarang pun tahu, namun enggan jua menangkap burung ini.
Bisa kita katakan bahwa ini adalah suatu kebijakan bahkan kearifan lokal yang diciptakan oleh masyarakat Aceh zaman dahulu. Istilah “burung kutilang dapat mengutuk manusia” sangat berpengaruh terhadap pola pikir manusia dalam bertindak terhadap lingkungannya. Sebagai contoh, dulu waktu kecil, saya dan teman-teman sering main-main ke sawah bila sudah habis masa panen. Tujuannya tak lain untuk menangkap burung seperti burung pipit dan manyar. Tapi tidak untuk burung kutilang padahal warna bulunya lebih menarik daripada burung pipit. Ini lah yang disebut istilah tersebut dapat mempengaruhi pikiran manusia.
Kearifan lokal yang dimaksud dalam hal ini adalah dengan adanya kalimat yang menyerukan untuk tidak mengganggu burung kutilang, maka suatu bentuk untuk menjaga dan melestarikan jenis spesies tertentu. Bayangkan jika dulu tidak ada kalimat-kalimat tersebut, mungkin kita tidak tahu akan fenomenalnya burung kutilang ini di Aceh. Burung yang sering nangkring di pohon ini bahkan bebas membuat sarangnya dimana pun seperti di atap rumah yang paling tinggi.
Sekarang sudah sangat jarang kita mendengar kalimat memorable tersebut, mengingat anak zaman sekarang kebanyakan bergelut dengan gadget dan semacamnya, tidak lagi bermain di alam bebas. Mereka pun tidak tahu bahwa zaman dulu burung kutilang menjadi sangat populer dengan kutukannya sehingga orang pun enggan menyentuhnya.
Wassalam....

No comments:

Post a Comment